Pengelola Kota Mandiri di Jababeka Mampu Entaskan Kemiskinan
LAYAK jadi kebanggan. Pengembang di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, berhasil mencetak kawasan terpadu dan ramah lingkungan. Kebanyakan orang menganggap kawasan ini sebagai kota Mandiri. Sebuah kota yang tidak tergantung dengan kota lainnya.
Masuknya industri di Cikarang tidak hanya mampu menciptakan tenaga kerja tetapi mengentaskan kemiskinan di sekitarmnya. Sebab, warga yang semula tidak bekerja direkrut menjadi tenaga kerja sehingga kondisi keuangan keluarga masyarakat sekitar makin mantap. Kebutuhan rumah bagi keluarga yang ada di sana juga disediakan baik rumah sederhana hingga rumah mewah khusus bagi eksekutif muda. Setelah itu, muncul kebutuhan untuk memperbaiki rumah dan kebutuhan lainnya, sehingga muncul lagi lapangaN kerja dan tenaga kerja, mereka butuh rumah lagi, dan seterusnya bergulir bagai bola salju (snowball effect).
Begitulah proses pembangunan Kawasan Industri Jababeka Cikarang seluas 5.600 hektar yang dinilai sukses. Di sana terdapat 1.652 perusahan Indonesia dan perusahaan asing dari 32 negara. Oleh karenanya, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pun menginginkan ada 100 kawasan lagi model Jababeka.
“Konsep Jababeka perlu dikembangkan dimana, agar tidak semua datang ke Jakarta yang dampaknya seperti sekarang ini, macet, banjir, dan lainnya. Tetapi tidak semua investor berminat datang ke suatu tempat yang infrastrukturnya belum lengkap. Padahal, untuk membuat kawasan baru yang mandiri, kita harus bangun infrastuktur yang tidak sedikit biayanya,” kata Presiden Direktur PT Jababeka, Tbk Setyono Djuandi Darmono di kantornya di Menara Batavia, Jakarta, Jumat (21/6).
Jababeka juga telah membangun kawasan industri di Cilegon sebagai antisipasi pembangunan jembatan Jawa – Sumatera dan Cilegon sebagai transit gas dari Sumatera ke Pulau Jawa. Rencana lainnya, adalah mengembangkan daerah Kendal, Jawa Tengah sebagai kawasan ekonomi khusus dengan potensi pelabuhan yang strategis. Begitu Morotai di Maluku Utara dan Kota Palu, Sulawesi Tenggara, juga menjadi sasaran pengembangan kawasan ekonomi khusus dengan potensi industri pariwisata. Selain itu, Tanjung Lesung kini, menjadi primadona sebagai kawasan ekonom khusus yang digarap PT Jababeka, Tbk.
“Kendal yang super sulit terutama dalam pembebasan lahan. Tidak ada investor yang mau menggarap disana. Saya terpanggil karena saya putra daerah Jawa Tengah. Saya sudah diminta Gubernur Jawa Tengah sebelum ini dan sebelumnya lagi. Akhirnya saya sounding ke luar negeri dan sudah ada korporasi Singapura yang mau,” kata Darmono didampingi Direktur PT Jababeka Hyanto Wihadhi.
Kini, lahan yang sudah dibebaskan seluas 150 hektar dari target minimal 1.000 hektar dan maksimal 3.000 hektar. Namun karena ada pihak spekulan yang masuk menjadi ganjalan pembangunan kawasan ekonomi khusus di Kendal tersendat alias lambat. “Seharusnya, pemerintah daerah ikut mengkondisikan agar masyarakat siap dan menghapus spekulan,” kata Darmono mengeluh.
Tetapi berapa pun luasnya yang siap dibangun, pihaknya tetap mempunyai komitmen untuk membangunnya. Meskipun lambat tetapi tetap dikerjakan. Jadi, cinta negara, cinta kasih, mau bantu rakyat supaya ekonomi tumbuh rasanya tidak ada di kamus ya. Sekarang ini “lu lu, gue gue”. Mungkin perlu dibangun lagi kegotongroyongan, ayo bangun sama – sama negeri ini.
Dulu zaman Pak Harto, pembebasan lahan dibantu, cepat, dan harganya pantas. Sekarang ini “semau gue” membuat pembangunan jadi lambat,” ujarnya. Sementara itu, Tanjung Lesung yang menjadi primadona. Pembebasan lahan tidak menjadi kendala dan sudah dimulai sejak tahun 1995. Kendala yang dihadapi adalah masalah infrastruktur jalan. Jika ditempuh dari Jakarta melalui Pandeglang jaraknya sekitar 180 kilometer. Padalah jika dibangun jalan tol bisa ditarik garis lurus sepanjang 120 kilometer, bisa ditempuh dalam waktu satu jam dari Jakarta dan jika dibangun bandara, maka jarak tempuh dengan pesawat terbang memerlukan waktu setengah jam.
Untuk merealiasasi jalan tol dan bandara, PT Jababeka berupaya untuk membuat konsorsium. Tanjung Lesung adalah pantai yang cantik. Pantainya berpasir putih dan memiliki pepohonan rimbun. “Ini bisa menjadi “Bali” dekat Jakarta. Bisa melihat gunung Krakatau dan hutan dengan kearifan suku Badui,” kata Darmono. (dewi purnamasari)
Source: Harian Pelita – Pelitaonline.com
