fbpx

Jababeka Meningkatkan Kapasitas Pelabuhan Kering Cikarang

JAKARTA (IFT) – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menargetkan peningkatan kapasitas kontainer Dry Port Cikarang pada 2011 dari 100 ribu unit setara (TEUs) menjadi 150 ribu TEUs. Peningkatan kapasitas ini akan berdampak pada pendapatan perusahaan sebesar US $ 22,5 juta per tahun.

Setyono Djuandi Darmono, Direktur Utama Jababeka, mengatakan peningkatan kapasitas diimbangi dengan penambahan lahan dari 10 hektare menjadi 18 hektare. “Tapi, pendapatan mungkin tersedia bagi kami di tahun depan, setelah semua akses ke pintu tol dan jalan layang menuju Cikampek dari Jababeka dibuka. Untuk tahun ini, kami pertama-tama akan memperbesar kapasitasnya,” kata Darmono, Kamis di Jakarta.

Untuk menambah kapasitas peti kemas, perusahaan menganggarkan US $ 10 juta atau sekitar Rp 86 miliar. Budianto Liman, Wakil Direktur Utama Jababeka, menjelaskan bahwa pelabuhan kering dengan luas total 200 hektar akan membutuhkan investasi setidaknya US $ 341 juta.

Untuk pengembangan tahap I dan II mencapai 18 hektar, diperlukan investasi US $ 20 juta. Darmono juga menyatakan bahwa kapasitas maksimum pelabuhan kering 2 juta TEUs akan terjadi pada tahun 2020. Dengan pencapaian kapasitas maksimum, kontribusi untuk pendapatan akan mencapai sekitar US $ 300 juta per tahun. “Sebelum ekspansi, pendapatan masih sekitar Rp 87 miliar,” katanya.

Jababeka menganggarkan Rp 643 miliar untuk belanja modal pada 2011. 50% di antaranya berasal dari kas internal, sedangkan sisanya dari pinjaman bank.

Menurut Muljadi Suganda, Sekretaris Perusahaan Jababeka, sebanyak US $ 30 juta atau Rp 258 miliar akan digunakan untuk penyelesaian proyek pembangkit listrik yang dikelola oleh anak perusahaan PT Bekasi Power. US $ 10 juta atau Rp 86 miliar akan digunakan untuk ekspansi pelabuhan kering dan sisanya Rp 299 miliar untuk pembebasan lahan di sekitar proyek Jababeka. “Pada Mei 2011, sekitar 40% dari modal pengeluaran sudah digunakan,” katanya.

Budianto menambahkan bahwa perusahaan memproyeksikan total penjualan dan pendapatan pada 2011 mencapai Rp 1 triliun. “Target itu sebagian ditetapkan karena penjualan pada 2010 yang sebesar Rp 750 miliar belum diperhitungkan,” katanya.

Menurut Departemen Riset IFT, pertumbuhan pendapatan Jababeka terutama berasal dari segmen tanah dan bangunan industri dan infrastruktur. Pada tahun 2010, pendapatan dari segmen bangunan dan industri mencapai Rp240,7 miliar, meningkat dari Rp124,5 miliar 2009. Infrastruktur memberikan kontribusi bagi pendapatan sebesar Rp152,9 miliar, meningkat dari Rp145,6 miliar pada tahun 2009.

Pengembangan Pabrik
Muljadi menjelaskan bahwa pembangunan Bekasi Power saat ini telah mencapai 88,5%. Proyek dengan kapasitas 130 megawatt ini diharapkan akan selesai dan akan mulai beroperasi pada Desember 2011. Perusahaan akan mendapatkan pendapatan berulang dari listrik mulai 2012.

Menurutnya, proyek ini merupakan kerja sama dengan PT PLN (Persero). Perusahaan berhak untuk menjual listrik maksimum Rp 1.450 per kilowatt-jam. “Jadi, kami menjual kapasitas 100% nett dari 118,8 megawatt. Tetapi kemudian kami berhak untuk membeli lagi sesuai kebutuhan dengan tarif 16% lebih mahal daripada ketika kami menjual ke PLN,” katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa perusahaan memproyeksikan pendapatan US $ 85 juta per tahun dari proyek Bekasi Power. PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIP), perusahaan properti dan pengelola kawasan industri, juga akan membangun 32 unit gudang dan pembangkit listrik gas dengan kapasitas 3×8 MW dengan total investasi Rp 224 miliar yang akan dicairkan secara bertahap.

Edward Halim, Direktur Bumi Citra Permai, mengatakan tujuan pengembangan pembangkit listrik adalah untuk mendukung kebutuhan listrik di Kawasan Industri Milenium Tangerang, yang dikembangkan Jababeka.

Sumber: Indonesia Finance Today Halaman 10

Jababeka Meningkatkan Kapasitas Pelabuhan Kering Cikarang

Tinggalkan Balasan