fbpx

Dear HRD, Begini Agar Perusahaan Bisa Survive Hadapi COVID-19

SAAT ini kita sudah bergerak dari era VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity) atau perubahan yang tidak terduga ke COVID-19 atau era ketidakpastian. Tak sedikit perusahaan yang berguguran saat ini, dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya. Tapi, tak sedikit juga yang mampu bertahan, bahkan berkembang. Lantas, muncul sebuah pertanyaan: bagaimana cara agar perusahaan bisa survive ditengah wabah COVID-19 ini?
Bukan frustasi, tapi adaptasi
Dalam kesempatan HR Forum yang merupakan wadah dari Jababeka untuk mendukung tenant dalam mengatasi berbagai tantangan sumber daya manusia,  Reza Widyaprastha, HR Director Jababeka & Co, menyarankan bahwa agar human resources (HR) sebuah perusahaan tak hanya menjalankan pekerjaan rutin mereka saja atau  business as usual. Human resources harus bisa beradaptasi di tengah kondisi krisis yang terjadi saat ini, bahkan kalau perlu jadi motor transformasi di perusahaan. Hal itu karena peran human resources sangat vital dalam membuat perusahaan bisa bertahan dan mencegah PHK karyawan di era new normal saat ini.
“Kalau ada HR perusahaan bertanya, ‘bagaimana kita menghadapi COVID-19 di era new normal agar bisa survive?’ Sebenarnya, pertanyaan yang perlu ditanyakan ialah ‘bagaimana kita bisa beradaptasi dengan masa new normal ini?’ dan ‘bagaimana kita bisa menciptakan peluang bisnis yang baru?’ Itu yang perlu digaris bawahi,” ungkapnya dalam webinar HR Forum Jababeka: New Normal, From Vuca to COVID, Jumat, 26 Juni 2020.
“Jadi, kita harus beradaptasi dan  mengantisipasi. Kita harus terbiasa. Jangan frustasi. Kalau situasi berubah, nggak boleh stres. Misal, baru tanda tangan struktur organisasi baru, tapi pas sudah di tanda tangan strukturnya berubah lagi karena COVID-19. Jangan stres,” tambah pria yang juga menjabat Ketua Human Resources Directors Indonesia.
Sebab masa new normal bukan berarti kita kembali ke kondisi normal, tapi kita beradaptasi menuju normal yang baru. Sebagai HR, kalau dunia bisnis berubah dengan cepat, jangan dianggap aneh. “Tapi dianggap sebagai normal yang baru. Sama halnya seperti orang yang saat ini harus pakai masker saat bepergian, itu sudah menjadi normal baru,” urai Reza.
Kunci adaptasi di era new normal
Lebih dalam, ia menerangkan bahwa adaptasi yang dilakukan seorang HR ada tiga hal, yaitu “berdamai” dengan teknologi, melakukan program efisiensi untuk perusahaan dan meningkatkan produktivitas. 
“Berdamai dengan teknologi ini, maksudnya, bagaimana seorang HR yang belum terbiasa dengan teknologi, seperti meeting online, presentasi online penggunaan google form, atau gagap teknologi dan sekarang menjadi belajar dan menjadi terbiasa,” terangnya.
Sementara melakukan program efisiensi untuk perusahaan, tujuannya untuk menjaga cash flow perusahaan agar keuangan perusahaan tetap sehat. Karena agar perusahaan-perusahaan bisa survive, mereka harus punya cash flow-nya. Cash flow is the king, dikondisi krisis saat ini. Sehingga, seorang HR harus melakukan kebijakan untuk menahan segala pengeluaran yang dirasa kurang penting di perusahaan.
“Di Jababeka Group sendiri kami ada 12 program efisiensi untuk menjaga cash flow kami. Saya ajukan program itu ke direksi, dan diakhir program itu saya jelaskan financial impact-nya; berapa ‘angka’ yang ter-saving jika kita menerapkan program tersebut.
Ternyata cukup masuk akal, dan juga bisa diterima karyawan. Karena lebih baik bahu membahu dengan cara efisiensi dibandingkan ada karyawan yang di PHK, bukan? Dan seorang HR harus bisa mengajukan program itu dan meyakinkan direksi. Caranya? Belajar keuangan untuk bisa melampirkan financial impact saat mengajukan program tersebut,” tambahnya.
Sementara maksud meningkatkan produktivitas adalah bagaimana seorang HR bisa membantu perusahaan untuk melakukan shifting bisnis agar bisa survive. Hal itu karena COVID-19 telah membuat perilaku dan bisnis jadi berubah.
“COVID-19 telah membuat kegiatan hobi meningkat, bisnis entertainment berubah menjadi online, produksi home hygiene dan instant food meningkat, penawaran jasa penyediaan dan pengiriman barang atau makan meningkat, farmasi, telemedicine, atau coaching online. Itu semua peluang bisnis yang ada di depan mata kita, tinggal bagaimana kita shifting,” papar Reza.
Agar proses switching dalam perusahaan berjalan lancar, Reza menyarankan untuk meng-coaching para pimpinannya terlebih dahulu. Hal itu agar terjadi persamaan persepsi dan nantinya bisa dicontoh oleh tim mereka. Sebab, kata Reza, era new normal menuntut perusahaan untuk cepat beradaptasi dan merespon karena semakin hari ketidakpastian semakin terasa.
“Perhatikan metode dan bahan coaching-nya. Jangan pakai cerita kesuksesan di masa lalu yang belum tentu relevan dengan kondisi sekarang. Jadi, bahannya harus dimodifikasi,” ungkap Reza.
Pelajaran yang bisa dipetik mengenai dunia bisnis di era new normal ini adalah the new normal era is the constant transformation. Setiap insan organisasi harus mencari terobosan yang baru dan berbeda, sekaligus lebih baik secara terus menerus. Oleh karenanya, sebisa mungkin value itu bisa dipahami dan ter-delivery dengan baik saat melakukan coaching.
“Pernah ada yang bertanya ke saya, “Apakah kita bisa kembali seperti dulu?” Kita tidak akan pernah bisa balik lagi. Kita sudah memasuki kenormalan baru. Ini karena begitu situasinya, mau nggak mau. Adapt-shifting-and transformation. Itu kata kuncinya,” tutup Reza.
Dear HRD, Begini Agar Perusahaan Bisa Survive Hadapi COVID-19