Jababeka Percepat Proyek Tanjung Lesung
Jakarta-PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) melalui anak usahanya, PT Banten West Java Tourism Development (BWJ), akan merampungkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung pada 2022 atau lebih cepat dari rencana semula tahun 2025. Total investasi proyek tersebut mencapai Rp 4,83 triliun.
Sesuai rencana, BWJ selaku pengelola kawasan pariwisata Tanjung Lesung akan menggelontorkan dana sebesar Rp 1,4 triliun. Sedangkan masing-masing tenant yang membangun kawasan tersebut mengeluarkan dana investasi sebesar Rp 200 miliar.
Direktur Utama BWJ Hyanto Wihadhi mengungkapkan, investasi tersebut akan dikucurkan dalam delapan tahap. Pertama, dana yang akan dikucurkan sebesar Rp 361,25 miliar pada tahun ini. Dana tersebut untuk pengembangan lahan seluas 104 hektare (ha). Sumber dana berasal dari kas internal yang merupakan hasil penjualan selama 2014.
“Sementara ini kami andalkan dari penjualan properti dulu. Dari tahun lalu ada sekitar Rp 200 miliar,” kata Hyanto kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (8/2).
Hyanto menambahkan, sisa dana investasi nanti berasal dari beberapa pihak yang akan digandeng oleh perseroan, salah satunya Pelindo. Namun, mengenai besaran setoran dana, perseroan masih berdiskusi dengan para mitra.
Adapun pembangunan tahap kedua akan berlangsung pada 2016 dengan nilai investasi sebesar Rp 233,75 miliar. Lahan yang dikembangkan bakal menjadi seluas 152 ha. Tahap ketiga, pada 2017, nilai investasinya Rp 467,5 miliar untuk pengembangan di lahan seluas 48 ha.
Selanjutnya, tahap keempat pada 2018 bakal menjadi tahun puncak investasi di Tanjung Lesung sebesar Rp 2,04 triliun. Lahan yang dikembangkan seluas 48 ha. Selanjutnya, tahap kelima pada 2019 bakal dikembangkan lahan seluas 55 ha dengan investasi senilai Rp 239,7 miliar.
Tahap keenam yang dilaksanakan pada 2020 bakal menyerap dana investasi sebesar Rp 187 miliar untuk pengembangan lahan seluas 55 ha. Pada 2021 akan dilakukan pembangunan tahap ketujuh di lahan seluas 85 ha dengan investasi senilai Rp 329,8 miliar. Tahap terakhir, pada 2022, akan berlangsung pengembangan lahan yang totalnya bakal menjadi 528 ha. Nilai investasinya mencapai Rp 382,5 miliar.
Hingga saat ini, BWJ telah menggandeng lima investor. Tiga investor berasal dari dalam negeri, sedangkan dua lainnya adalah investor asing. Para investor tersebut akan membangun Tanjung Lesung Beach Hotel, Kalicaa Villa, Beach Club, Sailing Club, dan Legon Dadap Village.
Tahun ini, Hyanto memastikan jumlah investor akan bertambah. Para investor itu berasal dari Tiongkok, Timur Tengah, dan Australia. “Sekarang ada sekitar 10 investor baru yang tengah kami jajaki,” ujar dia.
Para investor baru tidak hanya mengembangkan resor, mereka ikut membangun pelabuhan wisata serta marina. Pada 23 Februari 2015, BWJ dan mitranya akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Kawasan Marina dan Terminal Cruise. PT Pelindo II akan mengucurkan investasi sebesar Rp 586 miliar untuk pembangunan tersebut.
Pendapatan Rp 18 Triliun
Hyanto mengatakan, BWJ menargetkan pendapatan sebesar Rp 18 triliun, jika pembangunan kawasan Tanjung Lesung rampung. Pendapatan itu baru memperhitungkan hasil penjualan tanah.
“Luas lahan seluruhnya mencapai 1.500 ha, tapi itu gross. Bersihnya sekitar 30% atau 900 ha. Lalu dikali rata-rata harga jual tanah Rp 1,5-2 juta. Jadi sekitar Rp 18 triliun. Tapi itu baru dari penjualan tanah, belum lainnya,” tutur Hyanto.
Selain dari penjualan tanah, perseroan juga mengharapkan penjualan dari unit properti termasuk housing dan vilatel. Vila di KEK Tanjung Lesung dipasarkan dengan harga Rp 2-4 miliar per unit. Hingga kini, setiap tahunnya, KEK Tanjung Lesung mampu mendatangkan sekitar 250 ribu wisatawan.
